Review & Telaah Kritis (COHORT STUDY)

silahkan download telaah kritisnya disini : TELAAH KRITIS ARTIKEL KOHORT UAS

silahkan download artikel aslidisini : artikel asli studi kohor

REVIEW ARTIKEL :

“Ketuban Pecah Dini dan Demam Intrapartum Sebagai Faktor Risiko Sepsis Neonatorum Onset Dini”

Naufal Sastra Negara, Setya Wandita, Purnomo Suryantoro  

direview dan dikritisi  oleh Mia Endah Asmalasari

I.                   PENDAHULUAN

Sepsis neonatorum adalah sindrom klinik akibat respons sistemik terhadap infeksi pada bulan pertama kehidupan bayi. Insidensi sepsis neonatorum bakterial onset dini di negara maju berkisar 1-4 kasus tiap 1000 kelahiran hidup. Sedangkan insidens di negara berkembang lebih tinggi 5-8 kali lipat, dengan angka yang pernah dilaporkan berkisar 20-37 kasus tiap 1000 kelahiran hidup. Insidens sepsis meningkat secara bermakna pada neonatus dengan faktor risiko maternal seperti ketuban pecah dini, demam intrapartum, dan amnionitis.

Penelitian mengenai faktor risiko sepsis onset dini telah dilakukan di berbagai negara. Sebagian besar hasil penelitian retrospekstif menunjukkan bahwa faktor-faktor maternal yang memegang peran penting adalah ketuban pecah dini, demam intrapartum dan korioamnionitis.

Namun, hasil penelitian yang dilakukan oleh Chacko dan Sohi menunjukkan bahwa prematuritas dan berat badan lahir rendah yang tidak disertai faktor risiko maternal seperti ketuban pecah dini dan/atau demam intrapatum tidak meningkatkan risiko sepsis onset dini secara bermakna.

Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum terhadap peningkatan risiko sepsis onset dini.

Sehingga untuk menyingkirkan kemungkinan maturitas kehamilan dan berat badan lahir sebagai variabel perancu, maka dilakukan analisis stratifikasi berdasarkan variabel tersebut. Penghitungan risiko relatif ketuban pecah dini menggunakan statistik Mantel-Haenszel.

 II.                PEMBAHASAN

Penelitian ini menggunakan rancang bangun studi kohort prospektif selama 2 tahun, antara bulan Januari 2006 sampai dengan Desember 2007 di Instalasi Maternal-Perinatal RS. Dr.Sardjito, Yogyakarta.

Kriteria inklusi populasi target pada penelitian ini adalah semua bayi baru lahir yang terpapar ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum. Populasi terjangkau adalah semua bayi baru lahir yang dirawat di Instalasi Maternal Perinatal RS Dr.Sardjito dengan ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum, selama dua tahun dari bulan Januari 2006 sampai dengan Desember 2007. Kriteria ekslusi / subjek tidak diikutsertakan yaitu jika ibu mendapatkan antibiotik intrapartum atau neonatus menderita kelainan bawaan.

Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling sampai besar sampel terpenuhi. Data diambil dari aspek maternal dan neonatal yang didapatkan melalui anamnesis pada ibu, pemeriksaan fisik pada neonatus, dan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis sepsis.

Neonatus yang terpapar ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum dimasukkan dalam penelitan dan diikuti selama 72 jam. Diagnosis sepsis dinilai dalam 72 jam pertama kehidupan berdasarkan kriteria klinis dan konfirmasi biakan positif. Pengukuran hubungan antara paparan dan sepsis ditampilkan dengan risiko relatif (RR) dan interval kepercayaan 95% (IK 95%).

Secara klinis diagnosis sepsis neonatorum didasarkan paling sedikit dijumpai satu gejala/tanda pada paling tidak empat kelompok gejala berikut :

  1. Gejala umum bayi tampak sakit, tidak mau minum, kenaikan atau penurunan suhu tubuh (>37,5OC atau <36OC pada pengukuran suhu ketiak), sklerema/sklerederma.
  2. Gejala gastrointestinal, muntah atau residu lambung positip, diare, hepatomegali, dan perut kembung.
  3. Gejala saluran pernapasan, dispnea, takipnea (pernapasan >60x/menit), sianosis.
  4. Gejala kardiovaskular takikardia, edema, dan dehidrasi.
  5. Gejala sistem syaraf pusat, letargi, iritabel, dan kejang.
  6. Gejala hematologi, ikterus, splenomegali, petekie atau perdarahan, leukopenia (AL <5000mm3), ratio batang/segmen ≥0,2. Ketuban pecah dini (KPD) adalah ketuban pecah lebih dari 18 jam sebelum terjadi kelahiran.12,13 Demam intrapartum (DI) adalah peningkatan suhu lebih dari 38OC yang terjadi saat dalam persalinan tanpa ada tambahan definisi.

Semua data dicatat didalam formulir penelitian untuk selanjutnya dipindah rekamkan dalam cakram magnetik dengan menggunakan program SPSS versi 10.0.

Analisis dilakukan secara terpisah untuk jenis paparan ketuban pecah dini dan/atau demam intrapartum. Analisis stratifikasi dilakukan berdasarkan klasifikasi usia kehamilan dan berat badan lahir, dilanjutkan dengan penghitungan risiko relatif menggunakan statistika Mantel-Haenszel.

Jumlah subjek dengan paparan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi selama penelitian pada kelompok dengan paparan 268 neonatus, masing-masing 190 dengan paparan ketuban pecah dini, 47 dengan paparan demam intrapartum, dan 31 dengan paparan ketuban pecah dini yang disertai dengan demam intrapartum. Sementara pada kelompok tanpa paparan didapatkan jumlah subjek keseluruhan 267 neonatus. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada distribusi data kedua kelompok.

Analisis risiko relatif untuk masing- masing kelompok paparan menunjukkan :

–      10 (5,3%) neonatus yang lahir dari ibu dengan ketuban pecah dini (RR 1,76; IK 95% 0,71-4,37);

–      6 (12,8%) neonatus yang lahir dari ibu dengan demam intrapartum (RR 4,26; IK 95% 1,55-11,7);

–       4 (12,9%) dari 31 neonatus yang lahir dari ibu dengan ketuban pecah dini yang disertai demam intrapartum berkembang menjadi sepsis onset dini (RR 4,31; IK 95% 1,38-13,5).

Analisis stratifikasi berdasarkan maturitas kehamilan dan berat badan lahir menunjukkan bahwa :

–      Risiko sepsis onset dini neonatus yang terpapar ketuban pecah dini hanya meningkat secara bermakna pada kelompok neonatus kurang bulan dan/atau berat badan lahir rendah, tidak pada kelompok cukup bulan dan/atau berat badan lahir cukup.

–      Sementara risiko sepsis onset dini neonatus yang terpapar demam intrapartum dengan ataupun tanpa disertai ketuban pecah dini meningkat secara bermakna baik pada kelompok berat badan lahir cukup dan/atau cukup bulan maupun berat badan lahir rendah dan/atau kurang bulan.

Pada penelitian prospektif ini, ketuban pecah dini tidak terbukti meningkatkan risiko secara bermakna. Angka biakan positif dijumpai pada 43,8% kasus. Penyebab utama patogen yang terisolasi adalah Escherichia coli (32%), diikuti oleh Pseudomonas sp (25%), Streptococcus sp (14,3%), dan Staphylococcus epidermidis (14,3%).

Hasil yang hampir sama dilaporkan oleh Schuchat dkk bahwa risiko neonatus yang terpapar ketuban pecah dini tidak meningkat secara bermakna pada kasus sepsis onset dini dengan etiologi yang bukan Streptococcus grup B. Hasil penelitian ini juga menunjukkan demam intrapartum dengan ataupun tanpa ketuban pecah dini berhubungan dengan peningkatan risiko lebih dari empat kali.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chacko & Sohi melaporkan bahwa insidens sepsis onset dini pada neonatus dengan prematuritas dan berat badan lahir rendah tidak meningkat secara bermakna jika tidak disertai dengan faktor maternal. Namun, hasil stratifikasi menunjukkan bahwa paparan ketuban pecah dini tidak terbukti meningkatkan risiko sepsis onset dini pada neonatus cukup bulan dan/atau berat badan lahir cukup secara bermakna. Sebaliknya risiko akan makin meningkat secara bermakna pada neonatus kurang bulan dan/atau berat badan lahir rendah yang terpapar ketuban pecah dini. Hal ini sesuai dengan beberapa laporan studi yang menunjukkan risiko infeksi cairan amnion meningkat secara bermakna pada neonatus dengan prematuritas yang disertai ketuban pecah dini.

III.             KESIMPULAN

Pada penelitian prospektif ini, ketuban pecah dini tidak terbukti meningkatkan risiko secara bermakna.

Demam intrapartum merupakan faktor risiko independen sepsis onset dini, sementara ketuban pecah dini hanya meningkatkan risiko secara bermakna pada kelompok neonatus kurang bulan dan berat badan lahir rendah.

Angka biakan positif dijumpai pada 43,8% kasus. Penyebab utama patogen yang terisolasi adalah Escherichia coli (32%), diikuti oleh Pseudomonas sp (25%), Streptococcus sp (14,3%), dan Staphylococcus epidermidis (14,3%).

Silahkan Tinggalkan Komentar :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s