Review & Telaah Kritis (CROSS SECTIONAL)

silahkan download artikel asli disini : artikel asli potong lintang

silahkan download telaah kritis disini : telaah kritis CROSS SECTIONAL

REVIEW ARTIKEL :

“PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT SHIGELLA (DISENTRI) DI JAKARTA UTARA”

Siti Sapardiyah Santoso, I.B. Indra Gotama, Imam Waluyo

direview dan dikritisi  oleh Mia Endah Asmalasari

I.                   PENDAHULUAN

Penelitian telah dilakukan di Kecamatan Tanjung Priok dan Kecamatan Koja, Jakarta Utara,  mengenai perilaku dan sosial budaya dalam penanggulangan penyakit shigella (disentri). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Jakarta Utara mengenai penyakit shigella (disentri).

Tulisan ini merupakan bagian dari penelitian perilaku sosial budaya dalam penang gulangan penyakit shigella di Jakarta tahun 2002.

Fokus dari bahasan disini adalah persepsi dari responden mengenai tingkat keparahan disentri dibanding dengan diare lainnya, keseriusan masyarakat terhadap masalah disentri dibandingkan dengan masalah kesehatan pada masyarakat golongan yang mudah terserang disentri, kemungkinan anggota keluarga yang lain  terkena disentri, tingkat keseriusan disentri pada kelompok laki-laki dan wanita, pengaruh terhadap tingkat sosial ekonomi bila anggota keluarga terkena disentri, lama waktu sembuh bila sakit disentri, dan biaya pengobatan.

Salah satu dari tujuan khusus adalah melihat persepsi masyarakat terhadap berbagai masalah tersebut di atas. Informasi ini dapat memberikan masukan dalam pengembangan program kesehatan terutama kaitan sosial budaya menurut masyarakat setempat.

II.                PEMBAHASAN

Rancangan penelitian ini cross sectional. Daerah penelitian di Kecamatan Tanjung Priok dan Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Responden adalah penduduk yang berada di wilayah Kecamatan Tanjung Priok dan Koja. Responden berumur diatas 22 tahun laki-laki dan perempuan dipilih secara acak. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan koesioner terstruktur kepada 500 responden (250 laki-laki dan 250 wanita).

Cara pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada responden terpilih menggunakan kuesioner terstruktur. Pengolahan data dengan cara melakukan double entry dengan menggunakan program Integrated Survey Analysis (ISSA). Analisis data dilakukan dengan Statistic Package for Social Science (SPSS).

Hasil, menurut responden laki-laki dan perempuan. Masyarakat menganggap serius penyakit shigella (disentri) berkisar antara 72,4% – 77,6%. Masyarakat cukup peduli terhadap penyakit tersebut berkisar antara 59,6% – 63,2%. Masyarakat menganggap sakit shigella (disentri) lebih berat dari penyakit diare lainnya berkisar antara 67,2% – 71,2%. Kelompok mudah terserang penyakit tersebut adalah balita berkisar antara 85,2% – 86,6%, anak 6 -14 tahun berkisar antara 79,2% – 80,8%, bayi 0 – 1 tahun berkisar antara 79,6% – 86,4%. Lama waktu sembuh yang mengatakan seminggu berkisar antara 54,0% – 55,6%. Penyakit tersebut berpengaruh terhadap sosial ekonomi keluarga dan dianggap serius berkisar antara 52,4% – 53,6%. Biaya bila sakit shigella (disentri) ringan maupun berat dianggap mahal berkisar antara 33, 6% – 39,2%.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat menganggap peduli dan serius terhadap penyakit shigella (disentri) karena dianggap lebih parah dari diare lainnya dan pengobatannya dianggap mahal baik shigella (disentri) ringan maupun berat.

Responden di daerah penelitan pada umumnya sudah mendengar dan menggunakan istilah disentri di samping istilah lain seperti mejen atau menyebutkan gejala diare yang disertai darah dan lendir.

III.             KESIMPULAN

Penyakit shigella (disentri) menurut responden merupakan penyakit yang serius dalam keluarga, karena terkait dengan sosial ekonomi bila ada keluarganya yang sakit akan tidak bisa bekerja berarti tidak mendapat uang dan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Bila yang sakit bayi orang tuanya tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain karena harus merawat bayi tersebut.

Menurut responden penyakit disentri bisa dibandingkan dengan penyakit diare lainnya, hal ini didukung oleh jawaban responden yang mengatakan bahwa masalah disentri dianggap serius oleh masyarakat dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya.

Golongan yang mudah terserang disentri menurut responden terutama balita (1-5 tahun), kemudian anak berumur 6-14 tahun dan urutan ketiga adalah bayi 0-1 tahun, urutan keempat usia lanjut ≥ 60 tahun. Urutan ke lima wanita dewasa 15 – 19 tahun dan laki-laki dewasa 15 – 19 tahun.

Menurut responden kemungkinan bila ada yang sakit shigella (disentri) dalam keluarganya akan menular kepada anggota keluarga lainnya. Hal inipun mempengaruhi biaya bila sakit. Biaya untuk sakit disentri ringan maupun disentri berat sebagian besar mengatakan mahal.

Lama waktu sembuh kebanyakan mengatakan satu minggu, namun ada juga yang mengatakan beberapa minggu.

Silahkan Tinggalkan Komentar :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s