Review & Telaah Kritis (a nested case control study)

silahkan download artikel asli disini : artikel asli a neste case control

silahkan download telaah kritisnya disini : telaah kritis CASE CONTROL study

REVIEW ARTIKEL :

“PREMENOPAUSAL SERUM ANDROGENS AND BREAST CANCER RISK: A NESTED CASE-CONTROL STUDY”

Anne Zeleniuch-Jacquotte, et all

direview dan dikritisi  oleh Mia Endah Asmalasari

I.                   PENDAHULUAN

Studi epidemiologi prospektif secara konsisten menunjukkan bahwa tingkat dari sirkulasi androgen pada wanita menopause positif berhubungan dengan risiko kanker payudara. Namun, data pada wanita premenopause itu terbatas. Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu melihat hubungan sirkulasi androgen pada wanita premenopouse yang berhubungan dengan risiko kanker payudara.

Metode yang digunakan disini adalah pengukuran testosteron, androstenedione, dehydroandrosterone sulfat (DHEAS) dan hormon seks pengikat globulin (SHBG) menggunakan immunoassay langsung. Hormon testosteron bebas pun dihitung.

 

II.                PEMBAHASAN

Pada artikel ini dijelaskan bahwa penelitian menggunakan a nested case control yang memang jarang digunakan dalam penelitian. Nested case control study atau studi kasus kontrol yang disarangkan merupakan suatu desain penelitian kasus kontrol yang disarangkan dalam suatu studi kohort. Kita ketahui bahwa studi kohort memerlukan waktu yang lama untuk me-follow up suatu kasus dan tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar pula. Sehingga dianggap desain penelitian ini kurang efisien dan efektif untuk meneliti suatu kasus yang jarang terjadi. Namun Karena pengamatan kontinu & longitudinal, memiliki kekuatan yg andal utk meneliti masalah kesehatan yg makin meningkat.

Kelebihan dari desain ini adalah efisiensi biaya, dan juga pengamatan yang dilakukan secara continue dan longitudinal sehingga memiliki kekuatan untuk menjelaskan masalah kesehatan dan menerangkan hubungan dinamika antara faktor resiko dengan efeknya secara temporal dan dengan seefisien mungkin.

Penelitian ini bermula dari penelitian kohort New York University Women’s Health (NYUWHS) pada 14.274 wanita dengan rata-rata usia 34 – 65 tahun yang melakukan screening kanker payudara pada tahun 1985 – 1991.

Wanita hamil atau yang dalam pengobatan secara hormon tidak termasuk kedalam populasi. Setelah mengisi informed consent baik itu demografi, kesehatan, antropometri, reproduksi dan status gizi. Kemudian darah vena periferal non puasa diambil dan disimpan pada suhu -80oC untuk selanjutnya dianalisis.

Pada tahun 1991, wanita yang kembali ke klinik untuk screening tahunan kanker payudara diminta untuk mendonorkan darahnya setiap kali kunjungan. 52% dari wanita tersebut diminta dua atau lebih sampel darah untuk selanjutnya dikumpulkan dan dianalisa.

Wanita diklasifikasikan sebagai premenopause jika ketika pendonoran darah untuk diskrining itu dilaporkan hanya mengalami sekurang-kurangnya satu kali menstruasi pada 6 bulan sebelum datang kunjungan.

Untuk menentukan fase siklus pada donasi darah, tanggal mulai periode menstruasi sebelum kunjungan itu direkam, dan para wanita diminta untuk mengembalikan postcard yang menunjukkan tanggal awal menstruasi mereka pada siklus berikutnya. Tujuh puluh dua persen wanita mengembalikan postcard. Untuk perempuan dengan panjang siklus 20-41 hari, fase siklus ini dihitung berdasarkan jumlah hari antara tanggal donor darah dan awal tanggal menstruasi berikutnya: <12 hari: luteal; 12 sampai 16 hari: peri-ovulasi; 17 hingga 19 hari: folikular akhir; ≥ 20 hari: awal folikular.

Kasus kanker payudara diidentifikasi melalui tindak lanjut aktif dari kohort dengan kuesioner yang dikirimkan sekitar setiap dua sampai empat tahun sekali dan wawancara melalui telepon untuk non-responden, serta hubungan dengan catatan negara pada kasus kanker di New York, New Jersey, dan Florida, dan dengan Indeks Kematian Nasional AS

Pada penelitian kohort sebelumnya didapat didapat 1039 kasus kanker payudara lalu dari kasus tersebut dipilih kasus dan kontrol nya yang dilakukan secara acak.

Untuk setiap kasus, dua kontrol dipilih secara acak dari set risiko yang tepat. Set risiko untuk kasus terdiri dari semua wanita premenopause pada saat pendaftaran yang masih hidup dan bebas dari kanker pada saat diagnosis kasus (tanggal indeks) dan yang cocok kasus pada usia saat pendaftaran / donasi darah pertama (± 6 bulan), tanggal pendaftaran (± 3 bulan), angka (0, 1, 2 +) dan tanggal (± 6 bulan) dari donor darah  berikutnya, dan fase (folikular dini, folikel-an, peri-ovulasi, luteal, tidak diketahui) dan hari siklus menstruasi pada yang pertama donor darah.

Semua tes dilakukan di Hormon dan Kanker Group di Badan Internasional untuk Penelitian Kanker di Lyon, Perancis. Tes dipilih berdasarkan hasil studi validitas.

Kasus dan kontrol karakteristik dibandingkan dengan menggunakan
Model regresi logistik kondisional, untuk memperhitungkan dan menjelaskan pencocokan individu. Median, 10 dan 90 persentil dihitung untuk pengukuran hormon dan campuran efek regresi model akuntansi untuk pencocokan itu digunakan untuk membandingkan konsentrasi di kasus dan kontrol.

Odds rasio diperkirakan dengan menggunakan bersyarat logistik regresi. Biomarker dianalisis sebagai kuintil berdasarkan distribusi kasus dan kontrol digabungkan, dan tes tren dilakukan menggunakan variabel kategori dipesan.

Semua uji statistik dua sisi. Intra-kelas koefisien korelasi (ICC) digunakan untuk menilai keandalan temporal biomarker pengukuran menggunakan dua sampel yang berbeda dikumpulkan pada waktu poin pada kasus dan kontrol yang menyumbangkan darah lebih dari sekali.

Hasilnya adalah premenoposal serum testoteron dan free testoteron meperlihatkan adanya hubungan erat secara positif dengan kejadian kanker payudara. Hasil statistik menunjukan adanya hubungan positif yang signifikan dengan androstenodione (P=0,07), tetapi tidak ada hubungan dengan DHEAS atau SHBG. Dan hasilnya pun tetap konsisten dengan analisis pada tipe tumor.

 III.             KESIMPULAN

Konsentrasi testoteron dan free testoteron premenopause berhubungan dengan risiko kanker payudara.  Pengukuran testoteron dan free testoteron sangat reliabel bahwa pengukuran tunggal dapat menunjukan rata-rata perempuan pada seluruh waktu.

Hasil studi lain pun sesuai dengan hasil penelitian ini, dalam artian studi ini pun mengkonfirmasi hasil penelitian lain. Pengaruh dari testoteron dan free testoteron pada model prediksi risiko kanker payudara pada wanita usia antara 40 – 50 tahun perlu dikaji lagi, namun dengan peningkatan model prediksi risiko pada kelompok ini juga membantu pengambilan keputusan dengan melihat kedua skrining dan kemoprevention dari kanker payudara.

Silahkan Tinggalkan Komentar :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s