Hadist : “Disisi Manakah Kekurangan Perempuan?”

Dari Abdullah ibn Umar Rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai sekalian perempuan ! Bersedekahlah dan perbanyaklah minta ampun kepada Alloh ! Sesungguhnya aku melihat kebanyakan penghuni neraka berasal dari golongan kalian.” Seorang perempuan yang memiliki kelebihan bertanya kepada beliau, “Apa yang menyebabkan kami menjadi penghuni neraka yang paling banyak?” Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasallam pun menjawab, “Kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami. Aku melihat kalian adalah orang yang memiliki banyak kekurangan akal dan agama dibandingkan dengan orang yang berakal lainnya.” Kemudian seseorang bertanya, “Apa maksudnya kekurangan akal dan agama?” Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Maksud kekurangan akal adalah, kesaksian dua orang perempuan hanya menyamai kesaksian seorang laki – laki. Adapun maksud kekurangan agama adalah, kadang kaum perempuan tidak sholat beberapa hari dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim)

Keterangan Hadist :

Aku melihat penghuni neraka. Yakni ketika beliau mi’raj ke langit

Perempuan yang memiliki kelebihan. Yakni perempuan yang cerdas.

– Kufur terhadap suami. Yakni mengingkari setiap nikmat yang telah diberikan suaminya dan menganggap kurang apa – apa yang telah dimilikinya.

– Kesaksian dua orang perempuan hanya menyamai kesaksian seorang laki – laki. Karena dibandingkan dengan laki – laki, perempuan lebih jarang terlihat dalam urusan harta. Mereka lebih disibukkan oleh urusan – urusan lain. Dan mereka, dalam mengambil sebuah keputusan, sangat dipengaruhi oleh perasaannya. Tidak diragukan lagi, kurangnya pengetahuan, pengalaman dan keterpengaruhan mereka dengan emosi inilah yang menyebabkan lemahnya akal mereka, seperti yang dikabarkan Rosululloh shallallahu ‘alayhi wasallam (Badawi Mahmud Syeikh, 2007).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjelaskan bahwa kekurangan akal wanita itu dilihat dari sudut ingatan yang lemah, maka dari itu kesaksiannya harus dikuatkan oleh kesaksian seorang wanita yang lain untuk menguatkannya, karena boleh jadi ia lupa, lalu memberikan kesaksian lebih dari yang sebenarnya atau kurang darinya, sebagaimana firman Allah,

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang orang lelaki diantaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang lelaki dan dua orang wanita dari saksi saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.”(Qs. Al-Baqarah: 282)

Adapun kekurangan agamanya adalah karena di dalam masa haid dan nifas ia meninggalkan shalat dan puasa dan tidak mengqadha (mengganti) shalat yang ditinggalkannya selama haid atau nifas. Inilah yang dimaksud kekurangan agamanya. Akan tetapi kekurangan ini tidak menjadikannya berdosa, karena kekurangan tersebut terjadi berdasarkan aturan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia-lah yang memberikan ketetapan hukum seperti itu sebagai wujud belas kasih kepada mereka dan untuk memberikan kemudahan kepada mereka. Sebab, jika wanita harus puasa di saat haid dan nifas, maka hal itu akan membahayakannya. Maka karena rahmat Allah atas mereka, Dia tetapkan agar mereka meninggalkan puasa di saat haidh dan nifas, kemudian mengqadhanya bila telah suci.

Sedangkan tentang shalat, di saat haid akan selalu ada hal yang menghalangi kesucian. Maka dengan rahmat dan belas kasih Allah subhanahu wa ta’ala Dia menetapkan bagi wanita yang sedang haidh agar tidak mengerjakan shalat dan demikian pula di saat nifas, Allah juga menetapkan bahwa ia tidak perlu pengqadhanya sebab akan menimbulkan kesulitan berat karena shalat berulang-ulang dalam satu hari satu malam sebanyak lima kali, sedangkan haidh kadang-kadang sampai beberapa hari — sampai tujuh–delapan hari bahkan kadang kadang lebih– sedangkan nifas, kadang kadang mencapai 40 hari.

Adalah rahmat dan karunia Allah kepada wanita, Dia menggugurkan kewajiban shalat dan qadhanya dari mereka. Hal itu tidak berarti bahwa wanita kurang akalnya dalam segala sesuatu atau kurang agamanya dalam segala hal! Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah menjelaskan bahwa kurang akal wanita itu dilihat dari sudut kelemahan ingatan dalam kesaksian; dan sesungguhnya kurang agamanya itu dilihat dari sudut meninggalkan shalat dan puasa di saat haid dan nifas. Dan inipun tidak berarti bahwa kaum lelaki lebih utama (lebih baik) daripada kaum wanita dalam segala hal. Memang, secara umum jenis laki laki itu lebih utama daripada jenis wanita karena banyak sebab, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Kaum laki laki itu adalah pemimpin pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) atas sebagian yang lain (waniat) dan karena mereka (laki laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Qs.An Nisa’: 34)

Akan tetapi adakalanya perempuan lebih unggul daripada laki laki dalam banyak hal. Betapa banyak perempuan yang lebih unggul akal (kecerdasannya), agama dan kekuatan ingatannya daripada kebanyakan laki laki. Sesungguhnya yang diberitakan oleh Nabishallallahu ‘alayhi wasallam diatas adalah bahwasanya secara umum kaum perempuan itu di bawah kaum lelaki dalam hal kecerdasan akal dan agamanya dari dua sudut pandang yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Kadang ada perempuan yang amal shalihnya amat banyak sekali mengalahkan kebanyakan kaum laki laki dalam beramal shalih dan bertaqwa kepada Allahu Subhanahu wa Ta’ala serta kedudukannya di akhirat dan kadang dalam masalah tertentu perempuan itu mempunyai perhatian yang lebih sehingga ia dapat menghafal dan mengingat dengan baik melebihi kaum laki laki dalam banyak masalah yang berkaitan dengan dia (perempuan). Ia bersungguh sungguh dalam menghafal dan memperbaiki hafalannya sehingga ia menjadi rujukan (referensi) dalam sejarah Islam dan dalam banyak masalah lainnya.

Hal seperti ini sudah sangat jelas sekali bagi orang yang memperhatikan kondisi dan perihal kaum perempuan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan zaman sesudahnya. Dari sini dapat diketahui bahwa kekurangan tersebut tidak menjadi penghalang bagi kita untuk menjadikan perempuan sebagai sandaran di dalam periwayatan, demikian pula dalam kesaksian apabila dilengkapi dengan satu saksi perempuan lainnya; juga tidak menghalangi ketaqwaannya kepada Allah dan untuk menjadi perempuan yang tergolong dalam hamba Allah yang terbaik jika ia istiqomah dalam beragama, sekalipun di waktu haid dan nifas pelaksanaan puasa menjadi gugur darinya (dengan harus mengqadha), dan shalat menjadi gugur tanpa harus mengqadha.

Semua itu tidak berarti kekurangan perempuan dalam segala hal dari sisi ketaqwaannya kepada Allah, dari sisi pengamalannya terhadap perintah perintahNya dan dari sisi kekuatan hafalannya dalam masalah masalah yang berkaitan dengan dia. Kekurangan hanya terletak pada akal dan agama seperti dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Maka tidak sepantasnya seorang lelaki beriman menganggap perempuan mempunyai kekurangan dalam segala sesuatu dan lemah agamanya dalam segala hal.

Kekurangan yang ada hanyalah kekurangan tertentu pada agamanya dan kekurangan khusus pada akalnya, yaitu yang berkaitan dengan validitas kesaksian. Maka hendaknya setiap muslim merlaku adil dan objektif serta menginterpretasikan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam, sebaik-baik interpretasi. Wallahu ‘alam…

Fatwa Syaikh Ibn Baaz : Majalah Al Buhuts, edisi 9 hal. 100.

Sumber: Fatwa-Fatwa terkini Jilid 1 Bab Pernikahan  dalam http://muslimah.or.id/tahukah-engkau-saudariku/apa-maksud-hadits-wanita-kurang-akal-dan-agamanya.html diakses tanggal 18 Nov 2012, pukul 05:58 WIB

Bunga yang dapat dipetik menurut Badawi Mahmud Syaikh (2007) dalam bukunya Riyadhu Ash Sholihat :

– Sejauh mana perempuan memerlukan nasehat dan peringatan? Dari hadist diatas, kita dapat melihat bagaimana Islam sangatlah memperhatikan hal ini.

– Sebagaimana hal nya iman dan agama, akal juga bisa bertambah dan berkurang. Kurangnya akal dan agama yang dimiliki perempuan disebabkan karena mereka tidak bisa secara terus menerus mempraktekan perintah – perintah agama dan menggunakan akalnya, baik itu karena disegaja maupun tidak.

– Dari hadist diatas kita dapat melihat bagaimana perempuan diberi ancaman yang buruk dan tempat kembali yang menyakitkan. Hal ini dikarenakan kaum perempuan sering melakukan sesuatu yang dibenci agama, seperti mengingkari kebahagiaan yang telah diberikan suami nya. Terlebih lagi, perempuan, pada umumnya, sering mencaci dan mengucapkan kata – kata kotor. (Wal’iyadzubillah)

– Hadist diatas juga menganjurkan para perempuan untuk memperbanyak sedekah dan istigfar agar mereka dapat menutupi kekurangan mereka.

Wallohu’alam, Mudah – mudahan kita termasuk orang – orang yang beruntung, dengan sabar dan Iman. 

SEMANGAT🙂

One thought on “Hadist : “Disisi Manakah Kekurangan Perempuan?”

Silahkan Tinggalkan Komentar :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s